Rabu, 01 Juni 2016

Gara-Gara Bussang

Assalamu alaikum, apa kabar semua?


Siapa yang sudah menikah?

Well...

Saya tidak begitu memahami primbon hari baik, namun keliahatannya beberapa bulan sebelum bulan Ramadhan dan sesudahnya. Adalah hari nikah massal. Meja jadi penuh undangan pernikahan, tiap minggu bisa tiga sampai empat kali  “kondangan”. Sampai bingung baju mana lagi yang harus dipakai.

Lemari bufet “macea” jadi beragam bentuk suvenir-suvenir pernikahan yang berbanding lurus dengan makin kosongnya kantong akibat harus mengisi amplop undangan dengan nominal (kalo nda malu-malu jako) minimal lima puluh ribuan (biasa yang beramplop putih polos tanpa nama, itumi).

Bagi kalian yang kondangan bersama pasangan resmi.

Berbahagialah karena paling banter yang ada di pikiran kalian hanya “ih..sapa indo bottingnya itu kenapa canti sekali make up sama lamming na gang, kenapa nda disituki juga dulu ayah...”. 

Bagi yang bersama pacar.

Pasti perasaan dan wajah mupeng “ngebet” (mau sekalimi) nikah kalian bakal sangat terlihat, sambil berfoto di area photo boot dengan kertas bertag “WE ARE THE NEXT”. Dan kata-kata “doakanga juga naah kodoong”.

Tapi... jangan cari mereka yang jomblo.

Karena --  “dari tadi mi dia ada di dekatnya meja makanan pigi sendok nasi sama daging plus kerupuk tambah satu air gelas”. 

Mengeksekusi kue penutup dan buru-buru keluar sambil mengantongi suvenir pernikahan dengan tulisan terima kasih atas kehadirannya yang seakan-akan tertawa dan berkata,
 “bagemana cika’ gammarak ja pake baju bodo toh, kau kapan?”

*dustaakk!*

Tidak perlu berlama-lama bagi mereka yang lajang untuk berada di acara pernikahan, disana bagai ajang pameran antara -- “baju na sapa paling bagus, gincu dengan warna apa yang tidak hilang “matte” nya waktu gigit daging ayam, alis na sapa paling sempurna, bulaeng (baca : perhiasan emas) na aji yang mana yang paling singarak, ah..pokokna kalo bisa dikalah heba ki pengantinga”. 

Hmm, dan saya jadi ingat, sebentar lagi bakal jadi objek hinaan bagi mereka, para penghuni kehidupan sosial yang menjadikan semua atas sesuatu adalah seharusnya, termasuk pernikahan – yang harus disegerakan tanpa perlu alasan lain akan kenapa belum dilakukannya (belibet yak bahasanya..haha).

Hari itu, keesokan harinya akan diadakan acara “mappettu ada” atau lamaran, untuk adik perempuan saya (ehem..yak adekku, bukampi saya, puas mako semua ketawaikaaa’..).

Malamnya, kami sekeluarga cukup kerepotan dalam mempersiapkan menu yang akan dibuat untuk kudapan tamu calon mempelai pria. Rumah yang sempit memuat oksigen cepat habis dan kami berbagi karbondioksida (sepertinya) sehingga rumah terasa bussang (baca : gerah), sesak dan panas. Kipas angin sedari tadi hanya memutar-mutar hawa yang gerah. Para pa’dawa-dawayya (baca : koki, bisa  juga disebut : keluarga dan tetangga yang rela membantu menghabiskan hari untuk bikinkanko kue) terlihat beberapa kali mengusap dahi dan leher, serta tangan yang terkipas-kipas tanda ke-bussang-an.

Rasanya ingin segera membelikan mereka alat penyejuk ruangan saat itu juga, tapi kantong juga limit kartu kredit sepertinya tidak begitu cukup untuk AC dengan ukuran PK AC yang sesuai. Tiada lain tiada bukan, satu-satunya yang bisa terbeli adalah kipas angin (lagi).

Saya dan adik lain (bukan yammau menikayya). Diberi tugas untuk mencarinya malam itu juga, pukul sembilan malam, Yang artinya semua toko yang menjual barang tersebut sudah tutup karena kami bukan tinggal di kota yang begitu ramai, yang ketika membuka toko sampai larut malah hanya akan mengundang panga (baca : maling, garong, tukang rampok atau apapun ungkapan yang merepresentasikan orang jahat perebut suami eh maksud saya barang orang lain, hhehe).

Melihat kondisi tersebut saya dan adik memutar otak untuk menuju ke kawasan pusat ibukota, mungkin disana masih ada toko yang buka. Dengan menggunakan motor kami melaju on the way. Leher kami berulang kali menoleh ke kiri dan kanan, mata kami jelalatan menelusuri jalan seakan mencari tersangka kasus korupsi yang sedang melarikan diri.
Sesampainya di kawasan wisata kuliner Maros yang sedang ramai (kebetulang malam minggui juga), terlihat dari kejauhan ada sebuah toko alat listrik yang memajang tiga buah kipas angin. Kami berhenti di depannya, pemilik toko dari balik toko kacanya  memandang kami pula. Tatapannya sekan berkata, “singgahko sine masuk toko ku eh...”.

-----------

“Ani, itue ada kipas angin kayaknya..”
“Yakinko? Tiga ji itue kuliat..nanti jele’?!”
“Iyo pade keliling maki dulu sapa tauk masih ada yang lain, kalo ndada baruki kesitu”

Motor pun kembali menderu menuju arah belakang demi mengelilingi semua barisan ruko, yang pada  akhirnya kami sadari, semua toko yang disinyalir menjual kipas angin sudah tutup. Yang buka hanyalah cafe-cafe kopi dengan tema yang sama, yang sering dikatakan –kekinian, dengan wallpaper yang cihui demi para selfie, wefie maniac, dilengkapi gelas dan sendok adukan kopi yang diberi signature nama cafe demi menunjang hasrat para instagram-er untuk diposting. Duduk berjam-jam dengan hanya satu gelas (bukan kopi biasanya) demi mendapati password wifi.

Ah, sami mawon kabeh..

Ide yang sudah lebih dulu dimiliki kaum di Jawa sana untuk kemudian diadopsi dan masuk dalam tataran – tawwa gaulnya mi—era.

Keep fighting with that dude.

Kembali kepada kami para pencari kipas angin.
Setelah keliling dan tidak jua mendapati toko lain yang buka. Kami pun sempat bingung.

“Ani, ayokmi minum jus deh, ato makang basso mungking?”
“Weh kak Lia, pokus ko, disuruki cari kipas anging”.
“Astagaah...iyo dih, maapkanga hilapka’..”

Setelah sedikit lelah yang mengakibatkan disorientasi, kami pun bertolak untuk kembali kepada toko awal tadi yang masih buka dengan tiga buah kipas angin “mejeng” di etalase tokonya.

Ah, sial. Karena toko itu ternyata sudah tutup juga akhirnya. Hanya kegelapan yang ada di depan tokonya. Dengan aura yang sekan berkata “sapa suruko tida singga memang dari tadi”—nya.

“Ani, keliling maki pade dulu di pasar deh, sapa tauk masi adaji buka”.
“Ndada mi itu nah, karena malam mi, sore saja na tutup semua mi”.
“Enda boleki putus asa Ani, bussang
na itu kaweh di rumah”.

---------------

Motor kembali melaju. Dengan sedikit lebih cepat.

Kami beberapa kali berhenti karena melihat ada toko penjual baju yang masih buka dan terlihat memiliki kipas angin dari kejauhan, 
“weh itueehh..ada na jual kipas angin!”

Motor diputar dengan segera. Wush!

Namun segera kecele (baca : apadih kecele..?? emm..kayak ketipu mungkin) karena ternyata itu bukan kipas angin yang dijual melainkan --  “memang punya na ji penjualka na pake ki karena panas tongi na rasa kapang toko na”.

*gubrak!!* (padahal rannu ta mo gang..)

Dan setelah berkeliling, semua tetap sama. Toko sudah pada tutup. Disitu kami baru sangat menyadari bahwa Maros belum jadi kota besar. Tingkat produktivitas warganya belum begitu tinggi. Yang masih buka sampai tengah malam hanyalah para penjaja buah dan penganan oleh-oleh daerah saja. Demi melayani para penumpang bus atau kendaraan antar kota, yang mungkin sedikit lapar atau kebelet ingin ke toilet.

Saya pun memiliki ide untuk mencari kipas ke arah bandara, pikiran picik saya masih saja berharap bahwa mungkin masih ada toko yang masih buka jika sudah masuk kawasan kota besar.

Namun saat berjalan ke arah sana, tepat di depan mesjid Almarkas Maros, kendaraan cukup padat dan sedikit macet, ada beberapa motor yang berhenti di tengah jalan dan bahkan memutar balik.

Saya pun sedikit membentak sebuah motor yang dikendarai oleh seorang pria muda yang dipeluk mesra oleh penumpang wanitanya dari belakang (etdah..bukan karena jealous nah..) karena tiba-tiba motornya memutar arah pas di depan motor kami.

“We tolona ineh! Satu arah ki ine we.!”

Yang dibentak hanya melengos tidak peduli seakan lari dari sesuatu.

Kendaraan di depan pun semakin sesak saja, dari kejauhan terlihat rompi kuning kehijauan yang mengkilat diterpa sorot lampu kendaraan mengarahkan mobil dan motor untuk masuk ke dalam area kantor bupati. 

Polisi.

Saya (dengan tolonya) masih saja tidak curiga. Hemat saya waktu itu – “oh..mungkin ada pejabat sedang nikahan jadi para tamu diarahkan masuk ke dalam”. Motor pun saya lajukan tetap ke depan.
Sampai akhirnya benar-benar berada di depan para polisi. Saya pun ditepuk adik dari belakang, bagai ditepok seakan lepas dari pengaruh hipnotis.

“We kak Liaaaa....polisiiiiii!!”

*Deg!!*

“Wih iyoooh mate mijaaaaa”

Kami berdua panik, takut ditilang. Karena tidak (sedang) memegang STNK dan SIM motor. Walau helm terpasang apik, dan semua body motor lengkap (ya iyalah!). Namun kami tetap panik, toh...kami paham budaya sweeping – off the record saja yak. 

Apalagi saat seorang petugas mengarahkan tangannya yang mana maksudnya adalah mengarahkan kami untuk berhenti ke pinggir, padahal saya sudah coba pakai tips dan trik “jangko liak-liaki polisia kalo di jalan nanti nakira ki taku’..” dari seorang teman (yang enggan disebutkan namanya).

Wajah kami terlihat baik-baik saja.

Walau jika diterawang dan dilihat lebih dekat, kalian akan mendapati hidung kami yang kembang kempis tidak beraturan, keringat dingin yang berbulir-bulir, dan degup jantung yang vibrasinya bagai sedang nonton konser metal.

“mati mijaa...mati mijaaa”

Hanya itu yang ada di dalam hati kami.
Pikiran kepada orangtua di rumah yang menunggu kami di teras, para tukang masak yang sedang kepanasan, apalagi motor yang masih kredit dan beberapa lembar uang kipas angin yang ada di kantong seakan-akan memburu (hahaha..lebay yak).

Akhirnya seakan otomatis saja, ketika petugas itu lengah mengarahkan kami ke pinggir, saya tiba-tiba saja tetap melaju pergi. Lari dan lari. Pokoknya kabur. Bagai sedang dalam misi Tom Cruise di Mission Imposible, saya melaju kencang menghidari sweeping. Jilbab kami melambai-lambai kencang sejalan dengan hati kami. 

Bruuuummm..!!

“Ani! Ani! Liaki bede! Nda na ikuti jaki plokis ka??!! Liaki Ani!”
“Astaga kak Liaaa...weeeh, hati-hatikoooo...pelan-pelanko!!”
“Liaki Aniiiii....!”
“Enda jii, enda jiii”

Wuushhh wuusshhh...!

Hari itu berasa ada dalam sirkuit MotoGP saja (hahahahaa..).
Tanpa lihat ke kiri dan kanan, motor diarahkan ke arah keramaian PTB (sok-sok menghilangkan jejak bedeee’).

Berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Seakan lepas dari penyamun.

“astagaaah kak Liaaaaaaa, dumbakku weeeh!!”

Bah, saya juga dumbak (baca: deg-degan kayak mau tampil di depan penonton Indonesian Idol). Entah yang kami lakukan (tepatnya yang saya lakukan) tadi itu benar atau salah. Kami hanya para pencari kipas yang terjebak dalam keadaan yang tidak terduga, dan tidak sedang ingin menjadi korban akan sesuatu yang memang tidak seharusnya kami yang menjadi korban (apakaaaaah...!?).
Lari dari keadaan tanpa tahu apakah kami salah atau tidak dalam keadaan ini. Semua hal tersebut bahkan masih terngiang dalam hati saya sampai sekarang. Satu pikiran yang tiba-tiba saja membuat saya melakukan hal itu adalah “uang dalam kantong ini hanya untuk beli kipas angin” bukan untuk yang lain ( yaaah walo tadi hampirki ku kasi belli jus jeruk na Cafe Dewi Sinta gang...tapi tidak jadi ji).

Kami masih saja terlongo untuk beberapa menit (atur nafas tohh...).

Dan akhirnya setelah sedikit normal. Saya tetap bingung karena belum juga mendapati sebuah kipas angin bahkan untuk ukuran kecil. Masuk ke kawasan pasar malam hanya mendapati celana jeans dengan penjualnya yang bersiul akan kemolekan wajah kami (aaahhhaaaaayyyy...).

“Cari apaki ceweeetss...celana jings kaaah...priwiiiiit”

Mau putar balik lagi ke arah bandara, insya Allah saya sudah tobat. Demi menghindari bahaya.

“Lewat belakang maki kak Lia, yang ke arah prumnas Tumalia”
“Nda moja Ani, ada tongi kapa disitu jaga ka natauki bilang tempa’ kebur na ananak mudayya itu”
“Jadi??”
“Pura-pura maki masuk ke mesjid Almarkas baru keluar lewat gerbang seblana mo..”
“Wiihh..mallakka deh..nanti di dapakki lagi”

Kami sempat berdiskusi alot demi mencari jalan keluar dan menjaga harapan kami akan kipas angin yang belum ditangan. Sementara cafe sebelah yang memiliki dua lantai sedang menyanyikan lagu Dmasiv – “jangan menyeraaah...jangan menyeraaah...jangan menyeraaaah haaa...haaaaah...”.

“pokoknya haruski dapa’ kipas angin Ani”
“iyo..lama ta mo pergi baru pulangki ndda tonji kipas angin”
“Tapi bagemanaaa...”
“Oh...coba ki dulu pulang tapi lewat depannya ki pasar ka, ada mau kuliat”
“Na ndada..sudamaki tadi keliling toh..?”
“lewat maki dulu saja”

Tanpa babibu lagi motor kami arahkan ke jalan depan pasar tanpa kupertanyakan akan “apa tadi mau na liat adekku”, perlahan-lahan berjalan demi tetap memastikan bahwa (masih) ada toko yang buka. Saat melewati pos polisi dan sebelum sampai ke arah lampu lalu lintas, tepatnya di samping para penjual kaset bajakan dan pulsa juga HP merek China. Ada sebuah toko elektronik yang pintunya masih buka setengah (entah itu penjual galauki antara mau mi na tutup ato masi mau buka). Kami dengan kalap (macam ngegap orang selingkuh) segera memarkir motor.

“Itueeeh..itueeeh masi bukaaa, yeeeeeeeeyyyy!!!”

Ani, adik saya yang dari tadi pias karena kabur dari sweeping tiba-tiba bersorak sorai gembira, seperti mendapati oase di tengah padang gersang. Dan saya dengan “tolo”—nya malah bilang,
“Tida adaji itu guguknya Ani?Karena kayaknya cina yang punya baru pernah kuliat ada guguknya keluar masuk disitu”

*gubrakk!!*

“Awweeh ayokmi deh, bilang memangka tadi waktu pergi sekilas kuliat kayak masi buka tapi tidak yakinga, ternyata masi buka ji gaaang...yeey”.

Adik saya sudah tidak peduli lagi, dan saya yang sangat takut akan najis guguk masih juga cemas takut terkena najis (weird me...yeah..).
Beruntung saat kami masuk, si guguk tidak terlihat (mungkin tidak ada, atau mungkin tidurmi..). Nampak hanya seorang bapak yang membeli sebuah bahlon lampu dan dilayani bapak (keturunan Tionghoa) tua. 
Terlihat di dalamnya ada banyak kipas angin. Macam mendapati syurga kipas rasanya. Kami bisa saja memilih-milih terlebih dahulu, namun demi melihat tokonya saja kami sudah sangat bersyukur sehingga dengan tidak begitu lama negosiasi pilihan merek dan harga. Kami pun menjatuhkan pilihan pada kipas angin dengan ukuran sedang dan harga yang juga -- sedang,
 “ harga tutup toko ku mi itu nak..”, ujar si empunya toko.

Ahaaaaayyy!! Alhamdulillaaah....dapat juga.

Kami mengangkat kipas itu bagai tim ganda putri yang mengangkat PIALA UBER CUP. 

Yeeeaaaaayyy!!

“Mau dibungkus nak?”
“Tida usami, pake disini mi om”

Hehe, tentu saja tidak. Kami sudah cukup senang karena hasrat memiliki kipas angin bisa terlaksana setelah banyaknya uji dan coba yang dilalui.
Orang rumah setidaknya tidak akan begitu kepanasan lagi saat memasak sehingga persiapan acara nganre baje’ (baca : ketan yang dimasak dengan gula merah yang kalau masih hangat enak dimakan tapi kalo kena mi angin lebi keras ki daripada batu kurasa..) tetap bisa terlaksana. 

------------

Sesampainya di rumah, kami berdua disambut layaknya sang juara bulutangkis yang diarak karena memenangkan piala (hahahaha....padahal karena mereka suda kepanasan dari tadi).
Pertanyaan-pertanyaan, “kenapa ko lama” dan “dimanako beli kenapa masi bisako dapa’ kipas angin” hanya kami jawab dengan senyuman dan lirikan yang kompak. Tidak cukup kata untuk menjelaskan petualangan semalam dengan kipas angin itu. 
Pun dalam hati kami berucap “deh..kalo na tauki bapak bilang lari ki karena hampir ditilang napakamma kipas anging...habis ma’ saya”.





The End.

*Jangan ditiru yaa..*





Senin, 08 Februari 2016

Selintas Gumam Yang Belum Selesai - Poverty

Kemiskinan itu selama ini hanya terpapar melalui layar kaca, terbaca melalui media baca, dan sama sekali asing sedimikian lamanya meskipun sangat nyata (sebenarnya).

Lalu kemudian kemiskinan ini benar-benar saya sadari sampai ia benar-benar melingkupiku.
Tidak secara nyata lalu saya merasakannya dengan menjalani hidup dengan kemiskinan itu sendiri.
Namun, ia - kemiskinan itu ada di dekatku.
Tidak lagi melalui potret seorang anak kelaparan yang dijaga sang burung pemakan bangkai menunggunya mati. Atau berbahayanya menyelamatkan nyawa untuk tetap aman dan kenyang ketika seorang anak berbaju biru ditemukan mati terdampar di pantai.
Tidak, tidak senaif itu.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Absurd Afternoon

Menulis, mengabadikan pikiran, atau mematri fiktif untuk kelak menjadi legenda dan dipatutkan dalam sebuah prasasti. Entah. Ini bukan tentang membuatnya untuk menjadi mahakarya, mendapat pengakuan, atau prestise atas penghargaan. Bukan pula berkarya. Kreatifitas? Tidak juga bisa dikatakan seperti itu. 

Tidak semua bicara tentang itu tapi seluruh eksistensi yang ada, selalu terkait dengan kepentingan. Tujuan apa yang ada di balik ini semua. Pembuktian diri?menyatakan ada?atau demi lembaran kertas bernilai?terserah. Di sore hari ini, pikiranku kembali tidak mampu terkontrol bahkan oleh aku si penunggu raga. Kembali liar, otakku menjarah semua sisi yang tidak tentu. 

Kucoba rangkai dalam sebuah runut huruf. Mungkin ia akan terbaca lebih teratur. Atau entah kemana pikiran ini mengembara sampai pada akhir tulisan yang...mungkin absurd. Selalu kukatakan pada diri, dewasalah. Jangan tidak bertujuan. Jangan harus terlihat galau. Lalu kembali lagi pada tanyaku akan arti dari dewasa. Apa? Semua manusia sama sekali tidak dewasa – bagiku. Kita, jika aku termasuk di dalamnya, manusia yang harus selalu berpegang akan sesuatu. Mengambil keputusan akan sesuatu atas dasar sesuatu dikarenakan faktor sesuatu dan atas nama sesuatu.

Tentang sekian waktu yang telah berlalu. Tentang hari yang terus akan berganti dan tidak akan berulang. Akan selalu ada hari yang membuat langkah terhenti karena lelah. Membuat nafas tercekat karena tidak sanggup lagi membangun asa. Dan jantung yang berdegup keras akan perihnya rasa sakit dan tidak di inginkan. Terbuang...

Namun, manusia selalu harus berpegang, sesempurnanya manusia dibanding makhluk lainnya ia adalah makhluk terlemah, ia selalu butuh sesuatu untuk mengangkatnya ketika jatuh. Sebagai pelampung di kala tenggelam. Apakah itu tuhannya, keluarga yang menopang nya, teman yang selalu ada, atau hanya sebongkah harapan yang masih bercokol di relung jiwa. 

Tulisan ini tidak berusaha mendikte, tidak memakai semua ide dan konsep yang telah teruji, tidak mengambil kutipan pada semua kitab yang termaktub. Hanya berbicara, tentang rasa pribadi, pandangan sebelah tanpa tendensi benar atau salah.

Kata orang, bagi mereka yang meminta hal buruk pada dirinya terjadi adalah hal yang paling bodoh. Sampai suatu saat ketika masalah kemudian datang dan kemampuan manusiawi nya tidak lagi (saat merasakannya) merasa mampu untuk menghadapi. Nalar dan logika yang dulu terkonsep sempurna tentang konsep dan ide baik dalam kepala tiba-tiba liar. Otak tidak mampu lagi merangkai hal yang lebih optimis, perasaan yang bergejolak tidak pernah merasakan nikmat selain getir. Pahit. 

Lebih dari sesiapapun akhirnya menginginkan mati. Dan ketika hidup ini adalah “atas nama”. Tidak lagi kita memiliki hidup atas keinginan diri sendiri. Setiap gerak dan laku adalah teratasnamakan. Atas nama keluarga, atas nama agama, atas nama harga diri, bla bla blaaa.... jangan lakukan ini nanti keluarga malu, jangan lakukan itu nanti mencoreng agama. Dan semua akan sudah terikat dari sesuatu ke sesuatu lainnya.

Ini tentang kewarasan. Siapa sebenarnya yang waras dan tidak waras. Dan apakah kekuatan itu?iman?kepercayaan?keyakinan? Lalu kita menyadari, diri ini bahkan bukan kita yang memiliki. Bukan Cuma milik tuhan pencipta, tapi milik semua orang di sekelilingmu. Kita tidak pernah benar-benar memiliki sesuatu itu menjadi milik kita sendiri bahkan ketika kita yang mengusahakannya sendiri. Seperti Marshanda yang tiba-tiba liar dan semua menyatakan dia salah dan mengidap Bipolar?seperti AA Gym yang berpoligami lalu semua serba tidak lagi respek dan mengaguminya? Eerrhh... tunggu sampai kemudian kita mengalami sendiri semua masalah itu dan terkaget dengan keputusan yang ingin dilakukan. Apakah menjadi bagian dari hidup “atas nama” atau menjadi terbebas dengan segala konsekuensi yang berani kita tanggung. Dan nama-nama yang sebut diatas adalah mereka yang berani keluar dari zona tersebut. Dan layak disebut... pemenang. Setidaknya bagi diri mereka sendiri.
Bukan karena mereka publik figur. Bukan karena mereka terkenal. Tapi manusia sudah dari awal pandai masuk dalam setiap urusan yang (selalu) bukan urusannya. Menjadikannya bagian dari hidup mereka untuk diperbincangkan. Dipermasalahkan. Atas nama “kepedulian”. Padahal itu semua sama sekali tidak membantu si empunya masalah. 

Hehe...
Kemana langkah pikiran ini melangkah sebenarnya?kata orang ini karena aku tak beriman. Semua pikiran diluar konsep ideal agama dan norma dianggap nyeleneh. Namun, tiada pula yang berani menuntun. Atau lebih peduli ketika tanya itu datang. Selain...Wallahu A’lam. Padahal jika semua itu tuhan yang tahu. Lalu apa salahnya kelakuan salah?kita bukan pemilik hati, apa yang muncul dari apa yang hendak dikerjakan di kemudian ternyata bukan atas diri kita sendiri. Ah...entahlah. pikiranku sore ini, begitu absurd. Tidak begitu jelas. Dan masih sepantaran mereka para anak-anak.



Senin, 15 Desember 2014

BEKU

Aku menatap nanar pada bingkai jendela dengan pemandangan yang sama, lalu lalang yang selalu tetap sama.
Entah apa yang terjadi pada otakku sehingga tidak memberi komando pada tubuhku untuk bergerak, setidaknya...untuk mandi.

Kejadian semalam...yah kejadian semalam. Bahkan setiap dari sentuhannya masih sangat terekam di memori otakku. Nafas yang memburu, gejolak dari segala dorongan sel hyphothalamus yang membuat udara dingin di sekitar tidak lagi berfungsi. Kami -- sebut saja... bercengkerama liar.
Sejenak terlupa semua sistem sosial yang mengungkung, nilai-nilai budaya yang mengikat, dan bahkan tuhan mungkin berpaling saat itu.

Atas dasar cinta.
Yang semu.
Dan hanya menjadi alasan klise.
Menjawab semua rasa penasaran yang sedari kecil mengganggu. Dan membiarkan semua pikiran kolot agamis dilepas, biarkan membubung di langit-langit kamar dulu saja. Tidak terlena tapi kubiarkan lena. Aku masih dengan segala pikiran sitematis ku, masih dengan segala otak yang penuh perhitungan. Bukan remaja tolol yang memberikan semua dari tubuhku hanya dengan alasan, nafsu.
Apa ini benar?
Apa aku sudah cukup mampu bertanggungjawab atas diriku?
Apa aku mampu menghadapi segala cibir?
Tapi ini aku, aku adalah duniaku dan kubiarkan jua segala hal liar itu, terjadi. Lepas.

Sepeti itu saja.
Hal erotis yang tergambarkan dalam film-film dan video amatir ternyata tipu belaka.
Atau aku yang mati rasa? Entahlah.

Semalam seperti angin lalu.
Dan kini yang ku dapati diriku terjerembab dengan segala hal yang tidak bisa terpungkiri -- semu.
Apa lagi selanjutnya?
Lalu apa sesudah itu?
Apa ketika mati aku masuk neraka?
Bentuk siksa macam di buku-buka siksa neraka yang kecilku dulu terjual bebas dengan segala bentuk gambar erotis tidak terdeteksi lembaga sensor itu, apakah akan menjumpaiku juga?
Lalu setelah segala keperawanan yang telah tergagahi usai, aku termasuk kategori "wanita kotor"?
Apa stereotype "pelacur" juga pantas kusandang?

Aku paham agama. Walau tidak berperangai nabi.
Semua sudah jadi hal yang kucerna sejak kecil dini ku.
Tuhan yang tidak hanya menghidupkan manusia untuk sekedar hidup saja, namun dibarengi segala hal yang sudah harus diterima untuk dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan bahkan tidak untuk didekati sekalipun.

Segala norma dan dogma yang sedari lahir sudah "dibuatkan" secara tidak tertulis. Jangan begini dan jangan begitu yang harus selalu dijaga. Sehingga menjadikan nama baik menjadi prioritas utama untuk dipelihara. Yang "kata mereka" membedakan manusia dari binatang.

Aku selesai.
Selesai dengan tidak menyelesaikannya. Selesai dengan tidak memikirkannya.
Dan kini selesai dengan semua rasa penasaran yang terjawab.
Aku masih tetap sama secara kasat mata.
Namun semua orang selalu terlalu sok tahu tentang bagaimana membedakan si perawan dan yang telah kehilangan baik itu melepaskannya dengan sengaja atau dalam keadaan yang bahkan dirinya tidak menginginkannya.
Dan aku kini penasaran tentang bagaimana manusia-manusia di sekelilingku menilaiku.

Aku -- masih menatap nanar keluar jendela.
Bahkan menjawab segala hal dalam otak aku tidak mampu.
Ayah pasti mengecamku.
Ibu akan meringkuk pilu dengan tangisan sesal.

Tidak, aku tidak sedang berpikir.
Menyesalpun, tidak bisa pula dikatakan demikian.
Menangis sedikit, sesaat setelah selesai. Seperti telah melangkah dari jenjang masa kecil menuju dewasa.
Seperti saat pertama kali mendapatkan haid pertama.

Tapi masih saja semua tidak tercerna dengan baik di otakku.
Bahkan untuk melangkah mandi pun enggan.
Kejadian semalam.
Buatku, beku.







Selasa, 06 Mei 2014

SEKILAS LEMPUYANGAN


Setelah kemarin aku menyelesaikan tes masuk pasca sarjana di UGM Jogja, hari ini aku hendak menunggu waktu tes wawancara (yang masih lama waktunya) di rumah nenek di Jakarta. Tidak enak rasanya, kalau sudah ada di pulau Jawa macam ini, lalu tidak soan ke rumah nenek yang dulu merawat kecil dini ku.

Aku yang belum tahu Jogja, tidak mau merepotkan senior yang sudah berbaik hati, meminjamkan kamar kost kecilnya untuk di bagi sama aku yang badannya mengambil sepertiga luas kamar kost nya. Malu rasanya. 

Berangkat dari kost dengan berjalan kaki mencari shelter bus.

Jalanku terseok, dengan segala tas yang bergantungan tidak lagi apik di bahu dan punggung. Ternyata begini rasanya merantau, sendiri di kampung orang, dengan bahasa, budaya, dan laku yang beda dengan kampung sendiri. Sampai di shelter punggungku sudah hampir patah rasanya. Setelah bertanya bus dan rute apa yang harus ku tumpangi untuk ke stasiun Lempuyangan, aku ternyata malah mendapati diri salah shelter. Si mbak petugas menunjuk shelter lain di sebelah rumah sakit yang masih rada jauh. Ah!

Badan baru terasa sedikit enak setelah duduk di jok kursi bus.

Toeeeet!! Busssshhh!!

Si bus berjalan perlahan dan pasti. Rasa nyaman ini terus ku nikmati.

Pemandangan kota Jogja, dengan Malioboro-nya, entah karena aku terlalu sensitif atau memang karena aku sendirian, sehingga tidak bisa mendapati apa alasan Kla Project bikin lagu tentang indahnya kenangan di Malioboro, aku – hanya merasa kesepian. Walaupun paham bahasa mereka. Aku tetap merasa seperti tersesat. Seperti film Last in Translation versi Indonesia mungkin. Hhh..... menyedihkan.

Tidak lama ku nikmati jok empuk bus dengan harga murah itu, penumpang makin membuncit, dan seorang tua di depanku yang baru masuk sudah seharusnya ku beri tempat.

“Monggo bu... duduk di sini saja...,” aku berdiri mencari keseimbangan pada laju bus yang pula makin cepat.

“Maturnuwun mbak...,” si ibu memegang tas kecil nya sambil duduk.

15 menit aku mematung, pada tiap dari hempasan bus yang berusaha laju pada kota Jogja yang sempit, akhirnya si kondektur menyatakan bahwa shelter depan adalah untuk mereka yang hendak ke stasiun Lempuyangan. Aku bersiap.

Hupp!

Aku selalu sedikit takut pada jeda bus dan shelter, membuat aku harus melompat karena takut terlalu lama dan terjatuh.

Keluar dari shelter, banyak penarik becak yang mendekat, ku pilih bapak pengayuh yang paling tua di situ.

“Lempuyangan ya..”

Bapak pengayuh becak itu mengangguk takzim. Mafhum mungkin, pada tampangku yang terlihat sangat baru akan daerah ini.

Ah...kompleks rumah di daerah menuju stasiun mengingatkanku pada film-film lama Adi Bing Slamet dan DKI Warkop. Jendela-jendela dengan kusennya yang sangat 80-an. Pagar-pagaran yang (saya sebutnya) sangat Betharia Sonata (mungkin). Sangat klasik. 
Hati jadi makin sendu saja rasanya.

Becak berhenti di depan gerbang stasiun. Bapak pengayuh ku beri lebih dari biaya yang seharusnya. Beliau berterima kasih terlalu berlebihan. Aku hanya tersenyum sembari berkata, bahwa itu harga yang bahkan kurang untuk usianya. Tapi beliau masih saja bersikap seakan itu lebih. Layaknya sertifikasi guru yang banyak orang bilang terlalu berlebihan, aku rasa itu bahkan kurang, saat mereka harusnya sadar, tidak akan ada yang kenal angka dan aksara jika para guru tidak mengajarkannya.

Ku tinggalkan bapak pengayuh becak itu sembari berdoa, jika aku lulus di UGM, bapak itu akan jadi langganan becakku jika melancong di Lempuyangan lagi.

Aku masuk ke stasiun, bertanya tiket ke Jakarta. Jam berdetak di jam 10 pagi.

Mbak petugasnya melayani melalui ruang sebelah yang di hubungkan lewat jendela kecil macam rumah tikus. Dia menjawab semua pertanyaanku melalui microphone depan mulutnya yang tersambung ke speaker di atas kepalaku. Keretaku baru akan datang jam 6 sore. Dan semua orang harus tahu itu lewat speaker besar di atasku. Bodoh.

Aku melangkah lunglai, tas-tas besar ku angkat lagi ke kursi tunggu.

Tidak mungkin aku harus balik ke kost. Terlalu jauh. Ongkos lagi. Dan semangatku pun sudah pupus.

3 jam aku duduk beku. Tidak ada yang menarik selain logat-logat Jawa yang berseliweran. Tidak ada kisah macam di FTV yang membuatku bertemu dengan lelaki gagah medok dan akhirnya jadi kekasih.

Kulihat, ada orang-orang yang sudah diperbolehkan masuk ke dalam ruang tunggu di bagian dalam stasiun, sementara aku masih di ruang tiket dan informasi. Aku pula beranjak. Merajuk untuk di masukkan ke dalam walau keretaku masih lama. Mereka akhirnya mau. Setelah melihat KTP Makassar ku.

Di dalam lebih lengang. Rel-rel kereta belum terlintasi kereta satu pun. Penumpang yang menunggu masih sedikit, bahkan ada yang tiduran.

Aku memilih kursi yang paling belakang. Selain mengamankan tas, aku bisa menyapu pandangan ke seluruh sudut stasiun dari sini. Ku tarik nafas panjang. 
Hhhhhhh....... 
Apa kelak aku akan baik-baik saja jika tidak lulus dari tes masuk UGM ini? Setelah semua usaha dari bapak yang meminjam uang demi biaya ke sini. Derit kursi yang ku duduki makin membuat mentalku meringkik pilu. Tuhan... ku harap semesta mau mendukungku.

Ku buka tas dan mengambil Kimun (kamera DSLR ku). 
Membidik sunyinya Lempuyangan dengan seorang anak kecil yang berpotongan ala Dora The Explorer, menunggui emaknya yang tertidur dengan si kecil yang sedang di susui. Jarik panjang khas Jawa nya menutupi. Klasik. Aku jadi teringat jarik (kain panjang) mamak yang sering ku jadikan sprei kasur ketika di pesantren dulu, sebagai pengobat kangen pada mamak dan bapak di rumah. Dan harus selalu basah oleh airmata demi menahan rindu setengah mati.





&*&*&*&*&*&*&*            &*&*&*&*&*&*&*&*&            *&*&*&*&*&*&*    *&*&*&*&*





Makin siang akhirnya stasiun makin ramai saja. Aku makin terdesak. Makin sunyi dalam keriuhan. Aku masuk ke dalam mini market untuk membeli minuman, sekedar melegakan tenggorokan yang tercekat. Ah... lapar. Tapi aku terlalu takut untuk makan sembarangan. Dengan pengalaman buruk akan dedagingan yang beredar di Jawa. Aku, jadi sedikit lebih waspada untuk menyantap makanan pada warung-warung yang ada. Lapar ku tahan. Tidak enak juga makan sendiri.

Kembali duduk.

Tiba terlihat dari arah depan, ada penjual roti. Dan dengan senang aku menyambutnya karena tulisan HALAL yang cukup besar pada kereta dorongnya.

Mas penjual roti mendekatiku dengan senyum. Ramah.

Aku memesan dua bungkus. Dan dengan bahasa ku yang sangat tidak Jawa, ia segera bertanya.


“Mbak nya mau kemana, baru ya di sini??”


“Emmm iyaa...ke Jakarta..”, jawabku sambil mengunyah.


“Waah,,kereta ke Jakarta masih lama loh mbak, apa gak pulang dulu saja??ntar balek lagi kesini..”


Aku menggeleng. Menjelaskan alasan kenapa. Pada orang yang baru ku kenal. Seakan mendapat teman mengadu. Apa mungkin ternyata aku butuh orang yang peduli?

“Yaa...kalo gitu mbak nunggu di mushalla saja mbak, sekalian istirahat, ntar kalo kereta nya datang ta’panggil deh..”, si mas penjual roti itu simpatik mendengar cerita ku yang macam anak hilang.


Aku menurut dan berjalan ke mushalla.


Sampai di mushalla ternyata ada penitipan tas. Aku masuk dan bertanya ke marbot masjid. Dia tersenyum sangat ramah (mungkin senyum standar biasa, tapi aku terlalu kering akan kepedulian saat ini), dia menawarkan tas ku untuk di angkatkan dan di titipkan. Saat ku pesan untuk tidak meletakkan tas-tas ku di lantai, dia pun masih dengan senyum ramahnya mengangguk.

Ah...mungkin tdak semua orang di sini yang individualis. Buktinya sudah ada dua orang yang baik di sini. Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku tidak kesepian lagi menunggu kereta. 


Setelah dhuhuran. Aku selonjor kaki di teras masjid. Si mas marbot tadi mendatangiku.


“Mbak nya mau kemana?”


“Mau ke Jakarta...”


“Oh keretanya masih lama kok, tiduran saja dulu..”


Aku hanya tersenyum. Tidak  mungkin aku tidur dan kemudian benar-benar tertidur. Takut ketinggalan kereta. Apalagi di tengah kesendirian dengan uang pas-pasan. Jika di bilang sendiri, sebenarnya tidak juga. Aku memiliki beberapa teman sepantaran yang sudah sekolah lama di Jogja, tapi mereka tidak juga menawarkan diri untuk ku tempat bernaung selama di Jogja, mungkin karena sibuk. Aku pun -- mencoba berdikari.

Lama. Aku memandangi kereta-kereta yang sudah beberapa lewat. Aku melangkah keluar mushalla, kembali duduk di kursi, mas penjual roti mendatangiku.


“Mbak e gak makan? Kok lesu gitu...gak usah takut...nanti ta’ kasi tau kalo keretanya sudah datang..”


“Gak papa mas, saya takut makan di sini, kemarin hampir makan daging babi waktu di Solo, masih kenyang kok makan roti”,ku jawab sekenanya.


“Lah kok bisa?? Yaaa memang sih namanya di jawa banyak suku dan agama mbak..., mbak nya kesini ketemu siapa toh? Kok sekarang mau ke jakarta lagi?orang sana toh?”


“Saya orang makassar, kesini buat ikut tes masuk di UGM, sekarang mau ke rumah nenek di Jakarta, nanti balek lagi kesini buat wawancara...”


“Hoooh...ta’ doakan semoga lulus dan bisa ketemu lagi sama saya, namaku Jono ya mbak...ingat-ingat kalo balek lagi ke Jogja, aku tiap hari kerja di sini terus jual roti, “ ia menjawab dengan semangat sembari duduk di dekatku dan mengipas-ngipaskan topi nya.


Aku mengangguk tersenyum. Senang dan berterima kasih karena dia mau mengerti keadaan aku yang seperti hilang arah. Aku -- tidak merasa sendiri lagi.






&*&*&*&*&*     &*&*&*&*&*&*    &*&*&*&*&*&*     &*&*&*&*&*&*&*     &*&*&*&*





Jam sudah menunjukkan solat ashar. Aku sudah sangat muak menunggu. TOA mushalla stasiun Lempunyangan pun sudah melantunkan adzan. Aku beranjak ke mushalla. Berwudhu dan bersiap solat berjamaah. Aku berada di shaf terdepan dan jamaah shaf di belakangku penuh. Hingga akhirnya imam memulai takbir rakaat pertama.


Dan tiba-tiba kereta jurusan Jakarta datang! 
Aku terkesiap. Bagaimana ini? Aku tidak mungkin solat sendiri sementara aku berada di shaf depan. Aku juga tidak bisa lari karena shaf sangat full di mushalla kecil ini. Padahal, kereta tidak akan berhenti lama untuk menungguku berjamaah. Oh tidak! Katanya jam 6, kenapa sudah datang keretanya??


Aku masih ternganga dengan segala kebingungan. Kepalaku menjulur-julur menengok kereta dan tempatku solat secara bergantian. Pucat. Bagaimana ini?


Tiba-tiba si marbot yang baru selesai berwudhu dan mengambil shaf di belakang melihatku yang pias dan tersenyum, sambil berkata dengan berbisik dari jauh.

“tenaaang....keretanya....belum berangkaat...itu...masih mau di cuci dulu....udaaah..solat aja dulu...”, ia paham ketakutanku.


Huaaaaah....Alhamdulillah....aku berkaca-kaca di sebabkan ketololan dan kecemasan.


Aku mengangguk cepat dengan sangat lega dan kembali meperbaiki shaf untuk segera berjamaah pada ujung bacaan ruku’ imam.




*&*&*&*&*&*&    *&*&*&*&*&*&*&      *&*&*&*&*&*&*     *&*&*&*&*&*&*&*  




Tuhan tahu kegundahan hatiku. Di saat aku sangat merasa sendirian. Dia mengirim orang-orang baik seperti Mas Jono penjual roti dan Mas marbot mushalla. Di saat segala risau dan cemas Tuhan memberi kawan yang tidak di duga datangnya.

Setelah solat ashar. Aku mendatangi penitipan tas di mushalla itu. Hendak mengambil tas. Tapi mas marbot itu melarang, katanya nanti saja kalau keretanya sudah mau berangkat karena keretanya baru di cuci.

Aku manut. Melihat ke arah kereta yang sedang di cuci oleh petugas.

Beberapa jam aku masih menunggu.

Setelah jam menuju pukul 6. Aku mengambil tas. Mas marbot itu memberi doa semoga aku selamat sampai tujuan. Sementara di depan peron, mas Jono penjual roti mengarahkanku pada pintu yang harus ku masuki sesuai dengan nomor di tiketku. Aku sangat senang dan berterima kasih. Tidak perlu harus ketika aku lulus di UGM, jika aku kelak sedang di Jogja, aku pasti mencari kalian. Orang-orang baik yang menemani sekilas waktu ku di Lempuyangan.


Aku melambaikan tangan pada Mas Jono dari jendela kereta.

Sampai Jumpa Lagi...





Rabu, 02 April 2014

Satu Dari Beberapa (Resolusi)

Jadi mendaki gunung sebenarnya bukanlah pengalaman pertama buat saya…karena dulu semasa kecil saya tiap kali libur panjang sekolah pasti di buang (baca: di bawa) mamak dan bapak untuk berlibur ke Desa Bentengnge di Mallawa sana…which is actually desa itu berada di atas gunung. Yang mana kalau harus kesana pula harus mendaki, namun mungkin karena sudah jadi pemukiman jadi kemiringan tanahnya sudah banyak yang terkikis dan tidak akan se-ekstrim memanjat gunung beneran (kecuali di beberapa tempat tertentu). Jadi tiap kali ke Bentengnge saya akan merasa jadi orang terpopuler sedunia (hahahahha…). Jelas saja… kami datang (setidaknya) dari daerah yang lebih berperadaban dibanding daerah mereka, baju yang kami pakai pula lebih modis. Jadi tiap ke sana pasti jadi tontonan dan pipi jadi area cubit terstrategis. Dan tiap kali naik ke kebun kakek (mereka sebutnya  koko) itu…serasa ada di atas langit, saya biasa sama adik-adik berpura-pura jadi elang berputar-putar di tanah kebun kakek yang berada di puncak (benar-benar paling puncak) sambil melongok-longok ke tanah rendah nun di sana.

Itu dulu, sampai akhirnya sabtu 29 Maret kemarin saya juga telah (Alhamdulillah) menuntaskan salah satu dari beberapa resolusi tahun ini yaitu INTO THE TOP OF MOUNTAIN. Walau mendaki gunung bukan pengalaman pertama, tapi mendaki gunung “ala” pecinta alam yang “well prepared” itu belum saya lakukan. Dulu tiap kali mendaki gunung ke kebun kakek saya cuma ber—sandal jepit dengan ubi goreng di tangan. Oleh karena itu…sejak saya tahu dengan komunitas-komunitas pecinta alam atawa mereka yang sering manjat gunung, saya jadi penasaran. What makes it so special actually?? Waktu mahasiswa…saya liat kalo anak-anak mapala itu gondrong-gondrong dan filosofis sekali kalo bicara…macam seorang sufi saja rasanya (hehehhe…). Belum lagi gelang-gemelangan yang bergelantungan di tangan dan kaki dan bahkan di segala outfit mereka. Sebelum tahu itu padahal saya sudah pakai gelang2 ala “pendaki gunung” itu tanpa tahu artinya sampai ada yang nyeletuk “weeeetsss…anak gunung ineeeh….!”. Waktu itu saya cuma melongo dongok. Tapi akhirnya nantinya saya mengerti. Ah! Terlalu kerdil rasanya menisbatkan gelang ini sebagai tanda “sudah” pernah naik gunung atau sebagai symbol “anak gunung”. Yah… tapi memang anak mapala dulu selalu menarik perhatian saya, kenapa mereka begitu melebih-lebihkan gunung sampai di bentuk komunitas yang ada perekrutannya. Mana lagi outfit mereka bermerek ala merek-merek luar negeri sana, mulai dari jaket, tas, celana, dan semua outdoor gear nya bermerek mahal. Sandal dan sepatu khusus. Tenda, sleeping bag, dan lain-lain. Harus tahan angin, hujan, dan (mungkin) badai. Padahal om saya dulu kalau mau berangkat ke kebunnya (yang berada di puncak sana) malam-malam hanya bermodalkan sarung, senter, parang, dan –anjingnya. Tanpa sandal.
Belum lagi sosok Gie, belum lagi acaranya si Djangkaru, belum lagi film-film barat tentang semua hal yang berbau “pendakian gunung”, “penaklukan puncak”, itu semua membuat saya penasaran. Dan novel 5CM (ingat novelnya….bukan filmnya…), berhasil membuat saya terbayang-bayang tentang keindahan gunung gemunung yang mereka maksud. Begitu berbeda dengan pengalaman masa kecil saya…
Oleh karena itu..setelah beberapa tahun resolusi itu menganggur….setelah beberapa kali penolakan untuk di ikutsertakan dalam tim, dan setelah beberapa kali penundaan….sabtu kemarin, saya berhasil sampai ke puncak gunung Bulusaraung. Banyak terima kasih atas segala dukungan dan bantuan teman-teman yang sudah mau di bebani oleh saya yang (ternyata) memang banyak menyusahkan ini. Dalam blog selanjutnya…akan saya posting cerita lengkap perjalanan saya menuju puncak Bulusaraung yaaa….. :)



Rabu, 26 Maret 2014

RIAK

Hari ini seharusnya naskah puisi pesanan guru SD ku sudah selesai. Tapi sudah hampir subuh hari, kursor di layar komputer hanya berkedip pada teks yang setengahnya saja belum selesai. Ah!! Wajah itu senantiasa menghiasi kepala dan segala penjuru otak kiri dan kanan ku. Naskah puisi yang seharusnya tentang Hari Guru malah berubah menjadi puisi roman nan picisan, romantis malah jadi bikin geli sendiri.

------------------------------_____________________-----------------------------------------------

Gadis itu, yang sore tadi menghampiri di warkop tongkrongan komunitas seni dan sastra. Dengan wajah bingung lehernya bergerak mirip kura-kura, ke kanan ke kiri, seperti perawan di sarang penyamun, di tengah para gondrong yang jarang kena air, dia macam teratai yang tumbuh di atas air keruh. Sampai matanya bersirobok dengan aku yang sedang menyeruput kopi, berteriak nama ku yang bikin kopi itu muncrat ke meja Sugeng. Kaget.

“Ah…wedhus kowe Mat!!”, Si Jawa gondrong ini mengumpat mukanya di sembur kopi.

Si gadis yang tadi teriak nama ku dari jauh itu mendekat sambil tersenyum.

“Kak Ahmad Ansori kan?!”, ujarnya.

“Ehm..iya…siapa ya?”, aku berlagak sok cool, sambil nge lap tumpahan kopi di meja dan muka Sugeng. Sugeng yang di lap mukanya malah marah-marah. Karena lap yang aku pakai ternyata bekas nge lap lantai yang tadi di kencingi anak Mak Jenap pemilik warkop.

Dia mengulurkan tangan, kibasannya malah wangi sekali, waaahh…entah apa itu wangi yang biasa saja atau memang aku yang jarang kenal dengan sesuatu yang harum nan wangi, sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar saja, sesuatu seperti….wanita.

“Saya Lilik, anak jurusan komunikasi, mungkin kakak tidak kenal saya, iya…pasti, padahal dulu kita satu SD, kakak sudah kelas 6 SD pas saya baru kelas 4, tapi saya ingat puisi yang kakak baca pas upacara bendera di hari kelulusan kakak lho!”.

Dia, gadis ini, berceracau cepat…dan Sugeng malah nyengir kuda mendapati aku yang  -ternyata - menganga memperhatikan si Lilik ini bicara.

“Hoih!! Kasian tuh tangannya nganggur, halo…saya Sugeng…ooh..kamu anak komunikasi sebelah toh…kenapa bisa kenal si Mamat ini?? Ada urusan apa yak??! Sampe masuk sendiri ke sini…”, dasar Sugeng, begitu cepatnya dia langsung mengambil dan menyalami tangan Lilik dan bicara macam manajer yang ku bayar.

Si Lilik tampak malu-malu, dia permisi duduk di sebelah kami, jika orang melihat pasti menyangka si Lilik sedang duduk bersama bodyguard-nya sekarang. Dia tidak menolak saat ku pesankan kopi dan malah begitu lancarnya menjelaskan alasan kehadirannya di warkop, hanya untuk mencari aku.

Ternyata dia anak Pak Jauhari –guru bahasa Indonesia ku dulu di sekolah dasar, Pak Jauhari… beliau yang mengenalkanku pada indahnya puisi, mengantarku ke berbagai lomba di kecamatan dengan sepeda ontel tua nya, menggunakan gajinya yang sedikit untuk membayar biaya registrasi dari setiap lomba yang ku ikuti. Tidak ku sangka punya anak yang –manis.

Sempat kaget, tapi juga pongah tadi. Dari banyaknya lelaki yang duduk menyeruput kopi, tapi nama ku yang di teriakkan. Oleh seorang gadis. Mungkin perawakannya bukan bak model, kulitnya juga tidak semulus wanita di iklan lotion. Ah..kenapa pula sampai pada kulitnya ku telusuri. Namun kehadirannya di sore tadi , sanggup membuat mata ku yang tidak pernah terbayangi sosok kaum hawa ini –menerawang.

Katanya, pak Jauhari sedang sakit, sementara sebentar lagi ada pentas seni untuk merayakan Hari Guru Nasional. Seharusnya si Lilik ini yang di suruh membuat puisi demi penampilan siswa perwakilan bekas SD ku itu. Tapi ternyata si Lilik malah mengusulkan aku,  karena dia harus fokus pada skripsinya. Haha!! Padahal aku yang lebih senior darinya saja belum kepikiran untuk mengerjakan sesuatu yang prosedural itu.

“Saya dan teman-teman waktu itu amat kagum dengan puisi yang kakak baca di upacara kelulusan, mengharukan…dan kata bapak itu karya buatan kakak sendiri kan?! Kertas puisinya ada di rumah…di bingkai sama bapak. Katanya… itu masterpiece..”, Lilik bercerita dengan berbinar-binar. Tapi nyatanya hati ku lebih berbinar. Lilik Jauhari… hidungnya mirip bapaknya. Hidung jambu. Matanya sipit, makin menyipit saat dia tersenyum. Dan aku berbohong jika tidak iri pada beberapa tahi lalat yang menempel di pipi bundarnya.

“Trus kamu tahu darimana saya kuliah di sini? Apalagi sampai tahu dimana saya biasa nongkrong?” Aku mulai penasaran.

“Kakak kenal Mudhin? Dia  junior kakak di jurusan sastra, dan dia itu….teman sekelas saya waktu SD, dia yang memberi tahu saya kalau kakak ada di sini, sebelumnya juga saya sudah sering lihat kakak kuliah di sini juga…toh fakultas kita bersebelahan,” jawabnya sembari menunjuk ke arah fakultas isipol.

Aku mendelik. Pantas saja.

Jika ingin jujur, aku malas untuk mengerjakan puisi ini. Apalagi naskah teatrikal untuk kegiatan kampus saja belum ku selesaikan.

Tapi…Pak Jauhari menang dengan menggiring anaknya untuk datang. Ini aneh. Untuk urusan perempuan, aku awam, peduli apa aku pada mereka, yang ku tahu hanya panggung pementasan puisi dan sastra. Bekerja sama dengan para gadis  hanya seperlunya saja. Aku tidak menarik diri. Hanya saja…aku belum tertarik.

Sampai hari ini tiba.

Gadis ini, yang hidungnya seperti jambu air depan rumah, lucu, sekalian manis. Aku masih ingat wajahnya saat pamit, matahari senja yang masih terik membuatnya silau, dan matanya yang sipit makin hilang saja saat ber—dadah bubbye. Imut.

Seperti lagu lawas punya Savage Garden

“I knew I loved you before I met you…
I think I dreamed you into life…”

Tiba-tiba saja dia kuasai semua kuasa ku atas otak yang tertanam dalam kerangka tengkorak kepala ku, hanya dalam sekali jumpa. Ku tepis dan muncul lagi. Seperti riak air. Aku kalah dan bahkan dengkur Sugeng tidak mampu mengganggu.

Adzan subuh akhirnya berkumandang. Ku regangkan badan bangun dari kursi, membuka jendela agar udara kost kecil ini tidak hanya bau obat nyamuk campur jigong Sugeng. Menghirup udara dengan sebanyak-banyaknya. Tuhan… makhluk mu yang satu itu manis sekali.

Drrtttt!!! Drrrrtttt!!!!

Ponselku bergetar, ada pesan masuk.

Segera ku ambil dan kubaca.

“kak…sebentar siang sehabis kuliah saya ambil naskah puisinya ya…bapak kadung penasaran buat membacanya…. By Lilik”

Gawat!! Harus segera dikerjakan nih!! Ini kesempatan baik yang tidak boleh ku sia-siakan. Jangan sampai pertemuan kedua ini buruk hanya karena secarik puisi yang tidak selesai. Ku konsentrasikan pikiran ku, mulut Sugeng yang masih mendengkur ku sumpal sarung. 

Pertemuan yang dadakan, puisi yang dadakan, dan perasaan yang dadakan berjibaku dalam hati, otak, dan punuk pundakku. Tarik nafas….hembuskan….dan mulai mengetik.

Tunggu aku gadis berhidung jambu.