Minggu, 16 Februari 2014

LATO'

Sosoknya jika kau tilik tidak sekokoh dua tahun lalu
Usia menggerusnya, tubuhnya merenta
Memakan semua kekuatan di dalam sana
Kecuali semangat
Jika kau tatap ia tidak akan menatapmu balik
Bukan karena sombong
Tapi penglihatannya di ambil Tuhan di umur muda
Mengecualikan nanar duka
Gerak mata yang mencari suara

Warna tidak lagi nyata
Kelam, hitam, kelabu jadi kawan
Invalid... ya mungkin ia tidak lagi sempurna
Bahkan buta membuat semua indera mengerjakan lebih dari seharusnya
Hidung untuk lebih tajam mengenal aroma
Kulit untuk meraba bentukan benda
Telinga untuk selalu waspada atas gerak sehalus helai sutra
Dan lidah untuk mengecap rasa tanpa gambar

Derita, nestapa, sebut saja semua nama, perwakilan dari duka
Tapi airmatanya keluar hanya karena debu
Merutuki Tuhan tidak pernah terlafadz
Lantunan bijak selalu jadi penyemangat nadi agar tetap berdetak
Ini sudah takdir, katanya

Padahal...
Bahkan untuk berjalan beberapa langkah
Semua anggota tubuh harus berjaga
Menjaga celah dari menabrak, terjatuh, dan tersesat
Duhai...Tuhan..apa boleh aku menyebutMu kejam?
Kau buat manusia begitu tersiksa sesuai kehendakMu?

Lalu  tetap saja ia menempuh semua resiko terburuk dari gelap dunianya
Bukan untuk mengemis
Hanya mengikuti kangen akan cicit nun di kota
Berkendara di antara belantara
Dan sudah sangat bahagia dengan dekap dan suara
Tanpa gambar...

Lato'ku....sayang...takkan ku sebut Kau malang
Walau dunia mungkin tidak berdamai
Tapi kau tegur aku yang mengutuk Tuhan
Kau ajarkan syukur tanpa dikte
Kau tunjukkan semangat tanpa perintah
Hanya laku dan bijak kata mu yang buatku membuncah
Dari jiwa sesak dan rasa ingin berontak

Lato'ku ... sayang... ini cucu mu berwajah gempal
Kemarin bersikap berandal dengan ceracau nakal
Tapi hari ini Kau buatnya sadar
Hidup bukan tentang mengeluh..bukan tentang merenung bimbang
Dan kelak nanti kupastikan kau akan menangis
Menangisi betapa tidak sia-sia nya Engkau mendidik aku




Jumat, 10 Januari 2014

KULDESAK #1


Manusia pada semua dari sisi hidup, selalu ada sisi terkelam, sisi rahasia yang sampai mati pun akan di bawa.
Dan ini kisahku. 

Saat itu aku baru saja menyelesaikan sarjanaku. Seperti yang lainnya, aku tidak pernah jera untuk berhenti pada tiap pengumuman di dinding, hanya untuk sekedar melihat apakah ada informasi kesempatan kerja di sana. Aku pun menjadi pelanggan koran Sabtu sore. Yeah..koran Sabtu selalu menerbitkan lebih banyak informasi di banding hari lain.

Aku baru saja selesai mengajar hari itu, yeah...mengajar bukanlah jiwaku. Tapi aku tidak bisa diam begitu saja menolak semua yang datang sementara aku harus membiayai kehidupanku sendiri. Sejak aku pergi dari kota lahirku ketika kuliah, aku berjanji untuk tidak lagi meminta uang pada orangtua. Dan disinilah aku, kota asing yang selalu begitu asing bahkan setelah 5 tahun aku tempati.

Anak-anak yang baru selesai ku ajar keluar berlarian, aku duduk sendiri di pojok ruang kelas, menyalakan komputer jinjing tua milik ayah, yang di berikan kepadaku. Membuka beberapa email, mengecek beberapa apakah ada kabar berita dari semua resume yang ku kirim, menghapusnya karena tidak ada yang begitu penting. Punggung ini rasanya makin berat saja. Sudah setahun aku selesai sarjana dan jawaban belum selalu ku sampaikan pada ibu tiap kali beliau bertanya tentang pekerjaan di telepon.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka, aku sedikit kaget sampai melihat sesosok lelaki berdiri menghadapku,

 "err...maaf, di depan tidak ada orang jadi saya langsung masuk, saya mungkin tidak sopan dan mengganggumu..", ujarnya dengan suara berat, membuat aku langsung berdiri dan memperbaiki ujung rok ku yang sedikit tersingkap. 

"ah..tidak apa, ya..saya akan memanggilkan seseorang untuk anda, anda bisa menunggu di ruang depan", terburu-buru aku menutup laptop dan berlari naik ke lantai dua bahkan melewatinya tanpa sedikitpun melihat wajahnya. 

Entah, tapi aku selalu gugup bertemu dengan lelaki, apalagi di saat aku tidak memiliki kesiapan apa-apa. Di lantai dua aku juga tidak bertemu siapapun, kemana semua orang? Frontliner kami, July juga tidak nampak. Aku berlari turun kembali. Lelaki itu sudah tidak berada di depan kelas. Menarik nafas sejenak lalu aku berjalan ke depan.

 "ehm...maaf sir, sepertinya FO kami sedang keluar, ada yang bisa saya bantu?", aku berusaha sopan.

"oh yah, tak apa...saya hanya ingin bertanya, apakah tempat ini juga bisa mengajar privat?"

"privat sir?"

"ya...bukan untuk saya, untuk gadis kecilku, dia ...ehm...terlalu penyendiri, sehingga tidak memungkinkan buatnya untuk belajar bersama di tempat ini", ia menjelaskan sambil menggelengkan kepala.

"well...ya tentu saja kami bisa, tapi...boleh saya tahu mata pelajaran apa yang hendak di ambil?"

"Prancis...yeah......dia baru saja pindah ke kota ini, ah..cerita yang rumit, jadi kupikir...mungkin lebih baik dia mulai belajar dengan privat terlebih dahulu, saya belum memberi keputusan apakah akan mendaftarkannya di sekolah umum..atau home schooling", ia berbicara dengan mimik yang aneh, sesekali matanya berbinar namun sesaat pula redup. 

Suaranya yang berat, membuatnya sangat berwibawa, tidak tampak bahwa ia sudah hampir seumur dengan ayahku, jika bukan cincin di jarinya yang masih dikenakan, dan cerita tentang anak gadisnya yang baru datang bersamanya, mungki saja aku mengira ia belum berkeluarga.

"ah yaa...itu bagus, emm..bagaimana jika anda mengambil brosur ini terlebih dahulu, kemudian anda bisa kembali besok sembari menentukan jenis kursus apa yang gadis kecil anda inginkan?," tawarku.

"oh benar..! itu baik sekali, baiklah..terima kasih saya akan datang lagi besok", ia mengambil brosur di tanganku, dan tersenyum.

Segera ia berdiri dari depanku dan masuk ke dalam mobil. Tampaknya dia menyetir seorang diri. Sebuah Honda Life keluaran tahun 70-an. Hmm...sepertinya dia menyukai hal yang old school. Klasik. Sama denganku. Konyolnya, aku menatapnya hingga hilang di ujung persimpangan.

Aku masih ingat bahwa di rumah, aku menyimpan banyak barang-barang lama. Sejak kecil aku sangat menjaga semua barang yang ku miliki. Saat itu aku berpikir, suatu saat dimana aku dewasa, barang-barang ini akan menjadi barang klasik yang langka. Aku bisa menjualnya jika aku beruntung. Dan Honda Life Kuning Gading itu...membuatku merasa memiliki sesama pecinta hal-hal lama...yang klasik.


*to be continued...(hopefully can continued it)

Kamis, 09 Januari 2014

GAGAL

Aku sedang bergabung dalam sebuah komunitas ketika mengenalnya. Sebuah komunitas kecil tentang kumpulan pecinta perangko di kota kecil ku. Dan dia datang, muncul tetiba saja. Bahkan sama sekali aku tidak menyadarinya sampai ketika beberapa kali pertemuan para anggota komunitas aku datangi. Dia tersenyum, manis…tapi menurutku itu lebih menunjukkan wibawa dibandingkan senyum tulus. Sebagai anak baru aku hanya menjawabnya kikuk, dan memaksa bibirku yang kaku untuk sedikit memberi tarikan, dan kupikir aku tidak menciptakan sebuah senyuman malah terlihat seperti menyeringai.

Yeah…mom selalu menegurku, untuk lebih sering tersenyum. Karena orang-orang sering mengira aku sedang marah atau ngambek jika sedang berjalan sendirian. Padahal aku sedang tidak berekspresi apa-apa. Dan kurasa aku akan mulai menuruti apa yang mommy pinta. Tersenyum. Tidak mungkin aku akan membalas senyum manis pemuda di komunitas perangko itu dengan seringai ku yang mirip zombie. 

Hari ini seperti biasa, agenda pertemuan anggota komunitas akan berkumpul di taman kota, untuk saling berbagi koleksi terbaru. Aku pun juga sudah memiliki beberapa perangko lama setelah satu jam memeriksa berkardus-kardus di loteng penuh debu dan sarang laba-laba. Dua buah perangko tahun 1996. Ku ambil dari amplop surat kiriman kakek dari Jakarta. Perangko bergambar dua orang pekerja bangunan dengan topi pelindung, serta tulisan besar dengan tulisan SEMANGAT  PELITA. Aku tidak begitu mengerti apa maksudnya. Tapi kupikir teman-teman lain belum ada yang punya. Kusingkirkan sedikit sarang laba-laba yang melekat di bahu jaketku dan segera mengayuh sepeda menuju taman kota.

Sampai di sana, beberapa anggota sudah duduk melingkar. Aku memarkir sepeda dan segera mengambil tempat duduk di antara mereka. Dan hei… tebak, dia cowok itu, yang belakangan ku tahu bernama Zayn juga sudah datang. Jaket merah dengan celana pendek hitam. Damn! Kenapa dia begitu manis hari ini. Sedangkan aku, seberapapun aku berusaha mengelap sarang laba-laba yang tadi menempel tidak juga membuatku lebih baik. 

“hei…namamu Lily bukan?”
Aku menoleh dan mendapati kalo Zayn yang berbicara.
“err..yeah, Lily, itu aku” aku menjawab gusar, ku harap aku sedikit memberi kesan yang baik.
“Namamu seperti bunga, bunga kesukaan Rani, tunggu sampai kau ketemu dengannya, lalu kau akan tiba-tiba begitu paham tentang bunga yang menjadi  nama mu, hehe…” dia tertawa. Manis. Seperti biasa. Aku menatapnya agak lama. Kurasa sampai beberapa detik setelahnya dan akhirnya aku tersadar, gelagapan sendiri ketika anak-anak yang lain mulai saling berbagi koleksi perangkonya. Oh tidak, sepertinya aku menyukainya. Suka. Rasa yang aneh. Aku menggelengkan kepala ku dan mulai sibuk mengeluarkan prangko dari dalam tas.

Kami saling memperlihatkan perangko masing-masing. Perangko mungkin hal yang sangat biasa dan kadang terlupakan. NAmun di jamannya, perangko dengan jumlah rupiah yang tertera di labelnya itulah yang akan menjadi jaminan dalam berapa harikah suratmu akan sampai di tujuan. Aku menyukai setiap perangko yang ku dapat, dia seperti memiliki kenangan tersendiri. Dan entah kenapa hari itu, aku yang sangat menyukai perangko, malah lebih sering menatap Zayn yang memiliki senyum manis dibanding perangko yang ku koleksi sejak kecil ini.

=/=/=/=/=/=/=/===/=/=/=/=/=/=/=/=/=//=/=/=/=/=/=//=/=/=/

Hari sudah senja ketika aku mengayuh sepeda, pulang ke rumah setelah berkumpul di taman kota. Zayn membagiku perangko tahun 1995, bergambar satu buah bunga Raflessia Arnoldy yang sangat besar. Dia bilang, itu di dapat dari neneknya. Bukan dapat malah. Dia mengutilnya dari balik laci mesin jahit neneknya. Dari surat om nya di Padang. Entah kenapa dia memberikannya hanya padaku, entah aku yang terlalu menganggapnya istimewa atau apalah itu. Tapi aku seperti memiliki hal dari Zayn yang tidak di miliki orang lain, walau hanya sebuah prangko tua kuno. Ini sangat special.

Sesampai di rumah aku menempelnya di buku dengan bagian kertas kosong yang paling bagus. Memandangnya agak lama sampai aku merasa konyol sendiri. Bukan bunga itu yang tampak di perangko melainkan wajah manis Zayn.  Rambutnya yang hitam dengan matanya yang coklat tua membuatnya sangat manis. Ah…sungguh beruntungnya aku, jika dia suka dan mengajakku untuk jadi pacarnya. Tidak peduli aku belum mengenalnya dengan baik. Aku merasa senyumnya tulus. Dan malam itu, aku bermimpi dalam tidur. Zayn tersenyum, lagi. Dengan aku yang berada di sampingnya, bersandar di bahunya. Mimpi yang manis.

=/=/=/=//=/=/==/=/=/=/=/=/=/=/=/=/=/=/=//==/=/=/=//=/=/=/=/=/=/=/

Hari ini aku bangun sedikit lebih pagi dari biasanya. Mommy sudah berangkat kerja. Hanya tinggal aku di rumah. Selama musim libur sekolah ini, aku memang hanya di rumah saja. Bermain dengan komputerku, atau mencari surat-surat lama untuk aku lepas perangkonya. Pernah suatu kali aku mendapati surat lama Ayah untuk Mommy. Surat cinta rupanya. Tidak bisa ku bayangkan bagaimana sulitnya orang dulu berkomunikasi dalam jarak jauh. Kata mommy, surat tercepat yang pernah ada di jamannya adalah telegram. Itupun masih berselang satu hari. Aku tidak akan bisa hidup di masa itu. Aku adalah pecinta hal yang express, yang kilat dan instan. Tapi aku mencintai barang-barang kuno seperti perangko. Kau akan merasakan bagaimana pengorbanan seseorang menyukaimu, bersusah payah mengirimi mu  surat nun dari seberang sana, yang dengan perangkolah lalu bisa terkirim ke tujuan. Aku tidak heran jika mommy masih menyimpan surat-surat lama dari ayah. Kurasa…itu adalah cara mommy mengenang ayah yang sudah tiada. Ayah adalah seorang yang bekerja di kilang minyak di tengah laut, sejak kecil aku jarang bertemu dengannya. Hingga akhirnya kecelakaan itu mengambil nyawa ayah dan membuatnya tidak pernah kembali lagi ke rumah. Ayah tenggelam bersama kilang minyak itu.

Segera aku bebersih rumah, mommy akan sangat marah besar jika pulang kerja dan mendapati rumah masih sangat berantakan. Aku terbiasa melakukan ini. Toh, di rumah ini hanya tinggal aku dan mommy. Nenek biasa datang bersama kakek hanya untuk menengok kami untuk lalu pulang sembari mengingatkan agar jangan membuang barang apapun yang ada di atas loteng. Yeah…aku heran kenapa orang-orang tua sangat suka mengingatkan hal yang sama berulang kali.

Aku baru saja mau memasak nasi namun ternyata tabung gas sudah habis. Aku harus membelinya di depan. Di toko kelontong  Ibu Milly. Hal termalas yang harus aku lakukan. Disana seringkali banyak pemuda yang tidak jelas duduk-duduk memetik gitar dan akan meneriakimu hal-hal yang aneh. Heran kenapa Ibu Milly tidak menegur dan mengusir mereka. Padahal mereka hanya akan membuat pelanggannya lari.
Segera aku menarik jaket sekenanya, membawa tabung gas kosong untuk diganti yang baru. Aku tidak menaiki sepedaku, hanya memegangnya sambil berjalan sementara gas itu ku taruh di keranjang depan. Entah apa yang akan di teriakkan padaku oleh para pemuda itu nanti melihatku hanya berjaket dengan celana piyama lusuh dan belum mandi. Aku tidak peduli.

Sesampai disana aku bersyukur, pemuda-pemuda tidak jelas itu tidak ada. Segera aku masuk ke dalam toko sembari menenteng gas kosong itu. Tapi  oh Tuhaaaan…. Siapa itu di depan kasir. Itu…Zayn!
Aku berusaha menutupi diriku di samping botoi-botol gallon besar yang ternyata tidak lebih besar untuk menyembunyikanku. Dia melihat ke arahku. Aduh! Dan parahnya dia mulai melangkah mendekat. 

“hai…Lily…apa yang kau lakukan di belakang gallon?” dia mendatangiku tepat di depanku.

Apa yang harus ku jawab? Muka ku? Pakaianku? Sama sekali tidak siap dengan pertemuan mendadak ini. Percuma menyesal tidak mencuci muka terlebih dahulu tadi. Zayn sudah mulai tertawa melihatku pucat.

“hei..kau tidak apa-apa?”, ujarnya.

“well…yeah aku baik-baik saja…errr…ini aku mau menukar tabung gas”, jawabku sambil memilin-milin ujung jaketku dan masih menunduk, malu.

“oh..sini biar aku bantu mengangkatnya, dimana kau taruh sepedamu?”, Zayn langsung mengambil gas baru untukku dan mengangkatnya.

“oh terima kasih banyak…itu..sepedaku ada di luar…aku..mm…aku…”

“yaa..kau bayarlah harga gas ini, biar aku bawa gas mu keluar”, dia pun segera keluar.

Setelah membayar harga gas itu. Aku segera keluar menemuinya. Tak lupa sedikit memperbaiki bentuk ikat rambutku yang tidak rapih.

“well…kau baik sekali, terima kasih banyak Zayn…” ucapku, berusaha untuk bernada lebih manis.

“ah…ini biasa saja, sampai jumpa di pertemuan di taman kota sebentar sore Lily..”, tukasnya.

Aku mengangguk dan memberikannya senyum paling manis yang aku bisa. Ya, aku tentu dan pasti saja datang. Sebentar sore aku akan datang lebih cepat dan berdandan lebih manis lagi agar Zayn melupakan wajah burukku hari ini. Kurasa..dia juga menyukaiku. Aku harus membuatnya lebih terpikat lagi.
Baru saja aku berbalik hendak naik ke sepeda, Zayn kembali terdengar memanggilku. Aku menoleh, dan dia melambai. Mengajakku kembali. Lalu? Siapa itu perempuan yang baru keluar dari took dan berjalan di sampingnya?

Aku kembali memutar sepedaku, ragu. Namun tetap berjalan mendekat.

“err….ya..ada apa Zayn?”, aku menjawab sambil terus menatap perempuan di samping Zayn. Cantik.

“Ini Rani, orang yang ku sebut menyukai bunga yang memiliki nama seperti nama mu Lily…”, dia memperkenalkan perempuan itu. Aku mengangkat tanganku untuk menyambut tangannya, berkenalan.

“hai…kau bernama Lily?waaaah…aku iri, kenapa ibu tidak menamaiku dengan nama Lily jugaa..kau tahu, aku sangat menyukai bunga Lily, putih…symbol kesetiaan…oohh…aku sangat senang waktu Zayn memberiku bunga itu di tahun ketiga hubungan kami…”, Rani, perempuan ini. Tiba-tiba bercerita panjang lebar tentang bunga Lili. Dan apa itu maksudnya tahun ketiga?Hubungan? Oh tidak. Apa dia…?

“yeah…kami sudah pacaran selama 4 tahun, Rani sangat menyukai bunga Lili, makanya aku sangat kaget ketika ternyata ada anggota baru yang bernama Lily, yaitu kamu..hehehe…”, Zayn berbicara dengan lugas dan tampak sangat bahagia. Dia tertawa hingga rambut hitamnya bergoyang, manis. Namun kali ini, manis yang tidak bisa ku miliki. Aahhh….

Tiba-tiba kurasa kepalaku pusing. Mimpi semalam tidak lagi indah. Matahari terasa sangat terik sampai ke ubun-ubun. Rasanya mau pingsan kalau aku masih berlama-lama disitu. Aku segera permisi setelah sebelumnya aku harus menelan ludahku yang terasa pahit, tertelan bersama impian-impian konyol yang sudah sempat mampir ke otakku.

Belum lama aku mulai berjalan lagi ketika Zayn teriak dari jauh, “jangan lupa datang sebentar sore ya..Rani juga akan datang..!”.

 Aku tidak lagi menoleh melainkan hanya melambaikan tangan saja.
Kurasa…aku tidak yakin akan bisa datang.
Dan ku tuntun sepedaku pulang.Lunglai...dan gagal.

Jumat, 27 Desember 2013

Seperempat Abad

Tepatnya 25 Desember kemarin..usiaku genap 25 tahun. Rasanya aneh, untuk tetap dalam kondisi yang sama secara psikis namun ternyata jasad berjalan menuju renta. Saya... secara pribadi, merasa masih anak si mamak yang belum bisa beranjak dari balik ketiak beliau. Masih gentar ketika melihat tatapan marah mata bapak. Dan jujur saja... saya menikmati seperti itu. Rasanya aman, nyaman-nyaman saja, tidak punya beban, tidak pula di bebani apa-apa. Masih si anak kecil tanpa ekspektasi eksternal.

Namun memang sudah sangat lagu lama. Bahwa hidupmu berubah seiring waktu. Bahkan walau kalian sendiri tidak berusaha untuk berubah. And you dont have to guess cos it happens within me (as always).

Ada satu kalimat yang belakangan ini selalu di sebut mamak untuk menegur saya yang masih kalap untuk bangun pagi. Katanya " umurmu sudah seperempat abad Lia" . Sesingkat itu. Tapi menohok sampai ke sumsum tulang rasanya. Bahwa dengan porsi seperempat abad yang sudah di habisi itu. Belum ada dari hidup saya untuk hidup sesuai apa yang sebenarnya diri saya inginkan. Sudah sejak lahir hingga setua ini, kita hidup atas bentukan dari keinginan orang lain. Kita lahir dengan nama yang di berikan, dengan agama yang sudah harus di iyakan, bahkan kita punya sedikit hak untuk memilih baju apa yang hendak di pakai pun itu baru bisa dilakukan menjelang lepas masa sudah pubertas. Intinya yang saya mau bilang adalah kita ini bahkan orang-orang besar di luar sana tidak terbentuk atas kemauannya sendiri. Semua apa yang ada hingga sekarang ini adalah hasil dari kepasifan masa lalu. Karena manusia adalah tanah liat, dia terbentuk dari hasil tangan sekelilingnya. Sekeras apapun melawan bahkan perlawanan itu sendiri adalah hasil perundingan dari segala faktor eksternal di sekeliling, bukan?!

Bicara tentang usia seperempat abad saya, dengan umur segini, hidup mulai makin menjengahkan saja. Ketika arti dari tiap kelakuanmu adalah akumulasi dari penilaian orang di sekelilingmu pun kau tidak minta mereka untuk menilai. Makin banyak saja tuntutan-tuntutan di pundak ini. Tidak secara langsung di perintahkan untuk ini ataupun itu. Tapi saat kalian mencapai usiaku, percayalah kalian akan tahu apa maksud mereka bahkan hanya dengan melihat tatapan mereka.

Pertanyaan-pertanyaan mereka pun mulai sarkastik! Kalau anak jaman sekarang sebut dengan 'kepo'. Yeah...tidak lagi sungkan untuk mendahulukan sopan, karena usia ini adalah pembenaran bagi mereka untuk menyentil.

"Sudah kerja dimana?"
"Tidak lulus cpns ya?"
"Apa? Ngajar di tempat kursus?"

Itu semua masih bisa saya jawab dengan nyeleneh sembari melengos. Tapi tidak dengan pertanyaan satu ini.

"Kapan nikah?"

Nah lho! Sejak kapan nikah sebenarnya punya tenggat waktu? Kita hanya melihat umumnya masyarakat yang menikah dengan usia tertentu untuk kemudian menjadikan hal tersebut sebagai batas ideal. Semua yang kini menjadi kebenaran bukankah hanya merupakan sebuah kesepakatan? Lalu mengapa untuk menjadi 'sedikit' lain itu menjadi sangat salah?

Wanita yang belum menikah dimana seharusnya dia sudah meneteki anaknya di anggap tabu. Di minoritaskan. Dan segera dikucilkan tanpa tedeng aling-aling. Kejam. Apa sih makna "seharusnya" yang di labelkan pada tiap dari apa-apa yang ada? Siapa yang menjadikan  para mereka itu sebagai hakim dan juri?

Kita, terlepas dari apapun juga. Mau itu nilai sosial, agama, medis atau apapun juga. Bukankah hidup bukan hanya untuk menilai orang lain? Setidaknya ketika orang itu bahkan tidak merugikan diri penilai itu sama sekali. Lalu? Misalnya ketika saya belum menikah untuk sekarang ini? Masih bertahan dengan ingin capai cita-cita dulu lah setidaknya. Apa itu begitu menyusahkan orang-orang di sekeliling saya? Apa begitu meresahkan untuk tidak sesuai dengan sistem purba mereka?

Yaah...saya bicara sebagai representasi dari kaum saya. Yang mengalami diskriminasi sosial. Bukannya tidak mau menikah. Setidaknya belum. Tapi jangan lalu serta merta mendiskreditkan mereka yang tidak ingin menikah. Itu salah.

Mungkin, daripada menyarankan KB atau nikah di saat tepat dengan ideal usia yang "sekali lagi" di tentukan. Pemerintah lebih baik memberikan sosialisasi kepada masyarakat, bukan hanya tentang bebas berpendapat tapi juga tentang pentingnya menghargai privasi masing-masing dari individu untuk memilih apa yang menjadi pilihan hidup mereka, belum mau menikah cepat contohnya.
Bukankah tidak semua yang banyak dilakukan orang banyak untuk kemudian menjadikan hal tersebut sebagai sebuah kebenaran?!

Menikah, menurut hemat saya adalah sebuah hal yang sakral. Bukan hanya berupa seremonial yang di laksanakan "dikarenakan" alasan klise tentang kata "sudah seharusnya". Menikah bukan pula dengan alasan menghalalkan apa yang sebelumnya terlarang. Tidak. Bukan itu maknanya. Menikah adalah suatu kebutuhan prifat masing-masing individu. Dimana manusia yang memang diciptakan berpasangan ini, sudah merasa tidak ingin lagi sendiri. Lalu kemudian disitulah peran semua sektor untuk melegalkannya, sosial kah..secara birokrasi administratif kah...atau agama sekalipun. Setidaknya itu menurut saya. Dan saya menerima pendapat yang lain tanpa perlu memaksakan pemikiran pribadi ini. Tidak ada yang boleh menikah dengan keterpaksaan. Tidak secara usia, ataupun desakan siapapun. Kita sedari lahir sudah menjadi pasif. Hasil bentukan dari para pendahulu. Lalu sampai kapan kita masih berkutat dengan sesuatu yang ternyata sangat primitif ini? Bukankah begitu jahat alasan orangtua yang memperlakukan anaknya hanya karena ingin menjaga nama baik mereka sesuai norma yang masih perlu banyak perdebatan ini?Dimana nilai sebagai manusia di
tempatkan?!

Mereka tidak sadar, bahwa akibat tingkah diskriminatif itu menyebabkan banyaknya pasangan yang menikah secara terpaksa, dijodohkan tanpa adanya diskusi. Dan hal itu berbuntut dengan banyaknya tindakan buruk lainnya akibat ketidakpuasan. Perceraian, KDRT, dan perselingkuhan. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab akan hal itu?

Ini bukan tentang membenarkan hal tentang kebebasan sebebas-bebasnya. Karena manusia adalah makhluk yang saling terikat satusama lain. Hanya saja di antara kita harus saling menghargai satu sama lain. Terlepas dari sisi mana kalian memandang. Agamakah...sosialkah...ini adalah pendapat pribadi yang terlahir tidak dengan mengutip dari referensi manapun selain sebuah pengalaman. Bukan pula bicara liberal karena sayapun menganut agama yang mengikat saya dalam rutinitas religius.

Kalian bebas untuk menilai...dan berpendapat. Tapi jangan berusaha untuk memaksakannya pada orang lain :)

Jumat, 13 Desember 2013

(SATIRE) RUAM-RUAM




Bicara tentang cita-cita. Mungkin ada dari kalian yang sudah sangat bahkan melibihi tinggi langit. Kata Soekarno memang kita disuruh bermimpi setinggi langit, jadi kalau pun jatuh akan pasti jatuh di sekitar bintang-bintang. Jadi tidak begitu buruk-buruk amat. Tapi Soekarno lupa kalau di langit sana..di angkasa…apapun bisa terjadi, mungkin saja kita terjatuh ke angkasa raya yang empty, tidak ada apa-apa, ruang hampa bahkan oksigen pun tidak ada, atau jatuh ke planet dimana air juga tidak ada, parah, dan yang tidak pernah di inginkan adalah..ketika ternyata kita jatuh dan terhisap masuk ke dalam black hole (nah lho).
Dan kurasa itulah yang terjadi dengan saya (ya..sekali lagi tentang saya). Saya bermimpi kejauhan, dan harus menghadapi kenyataan untuk jatuh, terhisap ke dalam black hole. Semua hitam, bahkan untuk merasa hidup saja susah.

Saya…pada umumnya manusia, atau sebutlah seperti kebanyakan mahasiswa yang baru lulus. Pasti ingin segera bekerja, pursuing sesuatu yang memang sudah ter-list di buku harian atawa life map masing-masing. Ingin jadi inilah..itulah…macam-macam. Dan dari kebanyakan orang yang menulis segala tetek bengek cita-cita setinggi langit itu, saya pula ada di dalamnya. Sudah sedari SMP saya menulis segala angan di atas buku harian, di tiap tulisan sebelum tidur malam, di setiap lembar belakang buku tulis atau buku cetak pelajaran, dan sialnya juga kedapatan menulis cita-cita di Kitab pengajian yang seharusnya tidak di tulis hal-hal yang duniawi.

Setelah lulus kuliah, dengan segala senyum kebanggaan di hari pertama wisuda. Ternyata memang hanya itu saja. Ya..sehari itu saja. Segala peras keringat banting tulang orangtua selama masa kuliah hanya untuk sehari itu saja. Hari wisuda. Setelah itu..segalanya menjadi buram (setidaknya untuk saya). Dari sekian banyak yang ‘akhirnya’ hari ini sudah menggapai cita, atau setidaknya sudah bekerja. Kini saya kembali menjadi bagian dari yang kebanyakan. Yaitu yang gagal.

Tidak tinggal diam, saya segera me-review segala hal yang sudah saya rencanakan dengan matang. Kok bisa gagal ya? Kok susah ya? Semua kesalahan saya runut satu demi satu. Hingga akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan. Saya memang di takdirkan gagal. Yah..mungkin ‘belum’ berhasil.

Semua tulisan ini, bukan untuk mengecilkan hati para pencari hidup. Tapi hanya memaparkan sedikit dari isi hati. Bukan numpang curhat, tapi menunjukkan kenyataan pada seseorang lain selain kalian. Saya.
Saya bagian dari kehidupan yang ‘masih’ terpinggirkan.  Salah satu contoh dari si Gagal. Sudah terlalu banyak nasihat dan wejangan. Yaa..awalnya mungkin sedikit menolong emosional sehingga lebih tenang, legowo, nrimo. Tapi makin kesini, dari semua keseringan gagalnya itu, merubah semua nasihat dari para kekawan yang baik menjadi terasa (maaf) klise. Kok ya tidak ada hal yang baik terjadi dengan mempercayai semua elusan-elusan kata nan bijak itu. Tetap saja saya gagal, mencapai cita.

Dulu..ya bisa bilang dulu, karena saya sudah setahun jadi sarjana dan belum produktif sampai sekarang ini. Dulu saya selalu hanya menjadi penonton atas segala keberhasilan kawan-kawan. Selalu bisa beri senyum selamat pada yang juara. Bahkan masih bisa menjabat tangan mereka. Dan segera pulang ke rumah untuk menangis, merutuki diri, dan selalu meludahi jargon “kalau mereka bisa, kenapa saya tidak bisa”. Karena toh nyata nya yaa..sayalah itu yang tidak bisa. Istilah “kalau rejeki tidak kemana”, yaa..rejeki itu sepertinya selalu salah alamat dan tidak singgah pada saya. Mulut, otak, hati, dan jiwa sudah amat muak dengan segala petuah-petuah nan klise. Macam foto-foto ala emo, begitulah saya dengan keseluruhan jiwa saya.

Hingga saya, menonton suatu reality show, yang mempertontonkan segala kejahatan dunia pada si fakir. Bagaimana si miskin di eksploitasi para redaktur media, di perlihatkan bagaimana mereka struggle, bertahan hidup di tengah makin keringnya kepedulian manusia. Sementara ‘mungkin’yang menonton mereka akan segera lupa dengan apa yang barusan mereka lihat. Yeah..di luar sana. Ternyata ada dan terlalu banyak yang lebih menderita dari saya, bahkan mereka sudah melampaui ambang batas kemampuan mereka, doa-doa mereka sudah meneriaki langit, tapi entah Tuhan atau Kehidupan yang memang tidak mengindahkan. 

Sekarang saya sudah tidak percaya lagi istilah “ kalau mereka bisa pasti kita juga bisa”. Andai demikian sudah pasti semua orang sudah menjadi presiden. Andai demikian saya pasti sudah jadi seorang mahasiswa S2 di Jogja, andai demikian saya juga sudah kongkow-kongkow di restoran mewah. Rejeki memang tidak lari kemana, karena dia lari pada yang beruntung. Apa yang (setidaknya menurut saya) benar adalah tidak semua kemampuan seorang manusia dengan manusia lain itu sama, itu sebabnya ada ukuran-ukuran yang di labelkan pada manusia, entah itu IQ, volume otak atau apalah itu. Dengan kemampuan yang berbeda-beda itu, tentu saja hal yang orang lain bisa lakukan, belum tentu bisa kita lakukan, dia bisa lolos jadi PNS, entah karena pengaruh “internal” atau otak, semua tidak bisa juga di lakukan oleh semua orang. Tidak semua impian mu bisa tercapai, itu tergantung kemampuan masing-masing lalu kemudian rejeki mu yaah sebut saja porsi untuk mu di bagikan, kamu bagian gagal dan yang bagian lainnya dapat jatah berhasil.

Ini bukan untuk mengecilkan semangat dari yang membaca, tapi supaya kalian tahu tentang realita. Bahwa hidup tidak semudah mereka yang sudah punya perusahaan keluarga sendiri, yang memang di takdirkan punya otak encer, dan yang kebagian untung terlalu banyak. Hidup itu bejo. Hanya yang bejo lah yang punya hidup asik. Kalau memang hidup segampang segala jargon dan motto penyemangat hidup, tidak mungkin para aktivis mahasiswa yang berkoar-koar menjadi oposisi pemerintah, sekarang giliran lulus malah berkoar-koar jadi kacung menutupi borok pemerintah dengan  alasan “sudah jadi pejabat pemerintahan” juga.

Sekarang yang bisa saya lakukan adalah tetap berjuang, tapi tidak membuang-buang waktu pada hal yang sudah saya tahu kesempatan saya kecil. Saya mungkin pragmatis, atau seorang opportunis. Tapi saya menjalani hidup sesuai aturan main yang di tawarkan, SMA dulu mungkin saya tidak paham bahwa dunia adalah hutan belantara…yang kuat memakan yang lemah. Dan terlalu lugu untuk selalu membenci para penjilat. Idealisme yang realistis, ada hal-hal yang ‘mungkin’ masih saya pegang sebagai kebenaran, tapi…sekarang bisa lebih fleksibel, bisa kompromi, bisa di kondisikan sesuai apa yang di butuhkan.
Saya…tidak lagi makan buak simalakama. Tapi lebih ke hidup segan, mati tak mau.

*silakan menilai masing-masing. Terima kasih.